Berita
Tujuh Kilometer Jarak Sekolahku
Oleh: Adam Gita Swara
KLU - Siswa SDN 4 Jenggala, Tanjung, KLU 50 persen siswanya setiap hari harus menuruni gunung dan menyeberangi sungai dengan jarak 7 kilometer baru dapat menimba ilmu. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Jenggala yang terletak di dusun Dasan Tengak Desa Jenggala Kecamatan Tanjung, KLU, merupakan salah satu sekolah yang berlokasi di tempat yang terpencil.
Jumlah siswa keseluruhan mencapai 102 orang, 50 orangnya tinggal di Dusun Beriri, Gerenggeng dan dusun Leledeq (daerah pegunungan-red) yang masuk kawasan desa Jenggala, jarak yang harus ditempuh hingga ke sekolah oleh siswa yang berjumlah 50 orang tersebut tidak kurang dari 7 kilometer setiap harinya. Atau membutuhkan waktu perjalanan selama 1 ½ jam sehingga siswa setiap harinya harus telat mengikuti pelajaran.
Kondisi ini pernah disampaikan ke pihak terkait untuk membuat alternatif dengan mendirikan SD filial, bahkan rencana ini juga sepenuhnya didukung oleh wali murid dengan menyediakan tanah hibah sebagai lokasi mendirikan bangunan sekolah filial. Kemudian tahun 2006 pihak sekolah mengusulkan ke dinas terkait, tapi hingga saat ini belum ada respon sama sekali, ungkap Kepala Sekolah SDN 4 Jenggala, Tanjung, KLU, Nani S.Pd yang didampingi Wakil Kepala sekolah-nya Alsah A.ma,Pd, saat ditemui Suara Komunitas di ruang kerjanya Jum’at (20/11) kemarin.
“kondisi ini sudah sering kita sampaikan ke dinas terkait, tapi sampai sekarang belum ditanggapi, kondisi siswa semakin diperparah ketika musim hujan hampir 50 persen tidak ada yang masuk sekolah karena tidak dapat melintasi sungai yang arusnya deras, terlebih sebelum adanya jembatan penghubung yang dibangun sekitar tahun 1990 lalu, bahkan sebelum ada jembatan tak satu pun siswa yang berasal dari 3 dusun tersebut tidak ada yang bisa selesai hingga kelas 6, tuturnya prihatin.
“Untuk siswa kelas satu juga harus menunggu hingga jam kakak kelasnya pulang, karena tidak berani pulang sendirian, bahkan pernah mereka pulang hingga jam 3 sore, yang paling menyedihkan siswa harus berangkat pukul 06.00 wita bahkan para siswa tidak sarapan dulu karena takut telat dan kesiangan datang ke sekolah, tapi tetap saja telat, urainya“.
Tahun ini semua wali murid berpropesi sebagai buruh tani dan kebun yang tidak memiliki penghasilan yang tetap, tidak ada yang menjadi PNS, tapi satu yang patut kita kagumi partisipasi wali murid kalau diundang rapat untuk merembukkan sesuatu selalu hadir, tambah Wakil Kepala Sekolah SDN 4 Jenggala, Alsah.
Untuk terus memotifasi siswa dan memberikan pendidikan yang maksimal terutama menjelang ujian pihak sekolah membuat program pondokan atau asrama dengan sistim 10 hari sebelum ujian semua siwa harus tinggal di sekolah yang ditemani dengan guru sampai ujian selesai. “Sebagai motifasi bagi siswa yang tinggal di pengunungan kita bersama guru dan semua murid Rabu (18/11) lalu menggelar program hakking dengan rute yang dilewati para siswa setiap harinya, selain agar guru juga merasakan bagaimana perjuangan dan tantangan yang dilewati para siswa hingga sampai sekolah, serta menumbuhkan rasa kebersamaan antara guru dan siswa. Program ini juga kita padukan dengan sistim belajar di alam terbuka, dan setiap siswa juga kita meminta tanggapan atau pun pengalaman selama dalam perjalanan. Intinya jangan hanya prestasi atau IQ saja yang kita hargai pada siswa tapi kehadiran dan semangat hingga sampai sekolah yang patut kita banggakan dan terus dukung, papar Nani yang juga pengurus PGRI KLU ini.
Meski SDN 4 Jenggala dapat dikategorikan berada di lokasi yang terpencil tapi masalah prestasi memang tidak diragukan, buktinya tahun 2008-2009 mendapat rangking I pada Gugus II Kecamatan Tanjung, dan berada pada rangking III se kecamatan Tanjung. Sementara Ernawanto, siswa kelas V SDN 4 jenggala, pada Suara Komunitas mengatakan, “pukul 06.00 wita kita sudah berangkat dari rumah, dan Pukul 7.30 kita baru tiba di sekolah, setiap hari kita telat karena jarak sekolah yang sangat jauh ditambah dengan jalan yang harus menuruni gunung dan juga menyeberangi sungai, ungkap siswa yang memiliki nilai 8 pada mata pelajaran matematika, ini.
Senada dengan Emi Sastika, siswa kelas 6, “kita gak pernah sarapan karena takut telat“. Kalau musim hujan kita jarang masuk, karena takut basah belum lagi kita takut sama ular karena beberapa waktu lalu ada teman kita yang digigit ular, ungkapanya polos. Hal serupa juga disampaikan Ewin Mulyasari, coba ada sekolah di dekat rumah tentu kita tidak akan telat lagi. Kalau kita pakai ojek ongkosnya Rp 15 ribu, dan kalau melewati Tanjung ongkosnya lebih tinggi yakni Rp 30 ribu, tambah Ewin dengan wajah malu. Dengan kondisi ini kita harapkan pemerintah terkait memberikan jalan keluar, karena bagaimanapun juga 50 persen siswa kita berada di daerah pegunungan, daerah yang terisolir dan terpencil, sambung Nani berharap. (*)
- Berita
- dibaca 175x
- [0] komentar
| 17:39 |
Tri Astoto Melangkah ke Istana NegaraUJUNG - Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 10 Parepare Tri Astoto K SPd terpilih sebagai kasek berprestasi tingkat Sulawesi Selatan. Karena Berita > Sulawesi Selatan > GSP Radio |
| 17:33 |
Di tengah masa tenang pemilukada kabupaten wonosobo, sejumlah remaja dan pemuda yang tergabung dalam forum muda wonosobo mengharapkan pada semua pihak agar proses pemilukada kabupaten wonosobo yang Berita > Wonosobo > Pendawa FM |
| 09:55 |
Kepala desa pagowan Sahuri sudah lama sakit, hingga akhirnya memunculkan manufer politik dari rifal saat dia mencalonkan kepala desa, pada tahun 2007 atau tiga tahun yang lalu, hingga saat ini masih Berita > Lumajang > TCSemeru FM |
| 01:01 |
Kabupaten Sinjai saat ini sedang menjalankan Program Sinjai hijau dan bersih guna untuk mengatasi masalah Lingkungan khususnya persampahan dan untuk membuat Kabupaten Sinjai menjadi kota hijau dan bersih.untuk Berita > Sulawesi Selatan > Allstar FM |
| 23:42 |
1. Latar BelakangIde pendirian radio berawal dari poses perjalanan IPNU-IPPNU Kecamtan Dukun yang merindukan adanya sebuah program pemberdayaan warga sebgai langkah real yang bermanfaat Artikel > Magelang > K FM |
| 17:19 |
Lombok Utara - Berdasarkan hasil monitoriong lapangan yang dilakukan oleh Penanggung Jawab Oprasional Kegiatan (PJOK) PNPM di sembilan desa se-kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Pengalaman > Nusa Tenggara Barat > Primadona FM |
| 17:11 |
Lombok Utara - Belum cairnya dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dikeluhkan oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) selaku pelaksana Berita > Nusa Tenggara Barat > Primadona FM |
| 15:38 |
KENDARI - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Tenggara (KPID Sultra) menyelenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi Bidang Penyiaran dengan Tema "Optimalisasi Peran dan Fungsi Berita > Sulawesi Tenggara > Tridharma FM |
| 15:07 |
Berita > Lampung > Pelangi 107,8 FM |
| 14:49 |
Kendari, Memasuki bulan ke-4, Alpen Sultra dalam programnya Kesehatan Reproduksi (Kespro) untuk masyarakat Pulau Saponda, telah menemukan beberapa indicator keberhasilan. Sala satunya Berita > Sulawesi Tenggara > Ekeng_Komunitas Hijau |
- mohamad zulichan berkata : maju terus rakom indonesia ...
- mohamad zulichan berkata : ...
- BONAR berkata : bUNG WALHI SUMUT TEROPONG ...
- kostaman berkata : Saya mencari bibit belut ...
- kostaman berkata : kalo bisa dinas pertanian ...
- Dian-Ishak IGA FM berkata : Kembali kasih tuk elsa ...
- daniel berkata : Simple kit of the Buster ...
- bowo berkata : Pak, ada no telp yang ...
- Raden Wisnu Sumantri berkata : Terbukti,, bukan keadaan ...
- Raden Wisnu Sumantri berkata : Karena SMA 1 BAYAN saya ...





1. Latar BelakangIde pendirian radio berawal dari poses perjalanan IPNU-IPPNU Kecamtan Dukun yang merindukan adanya sebuah program pemberdayaan warga sebgai langkah real yang bermanfaat
Lombok Utara - Berdasarkan hasil monitoriong lapangan yang dilakukan oleh Penanggung Jawab Oprasional Kegiatan (PJOK) PNPM di sembilan desa se-kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara
Lombok Utara - Belum cairnya dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dikeluhkan oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) selaku pelaksana






